Makalah Tentang BungTomo
Kata
Pengantar
Masa awal kemerdekaan Indonesia
pada tahun 1945 tidak membuat Negara Indonesia aman dari para penjajah, banyak
sekali pemberontakan-pemberontakan, penjajahan, agresi militer, dan masih
banyak lagi. Oleh karena itu para pahlawan-pahlawan bangsa pun berjuang demi
menjaga kemerdekaan Indonesia. Dalam karya tulis ini diceritakan tentang
seorang pejuang Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia
yang bernama Soetomo.
Karya tuis ini dibuat untuk
menjadi panutan bagi para pembacanya agar dapat mampu mempertahankan
kemerdekaan Indonesia pada masa sekarang ini, mencontoh pada perjuangan
pahlawan-pahlawan masa lalu yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan. Hal
ini selaras dengan kurikulum 2013 yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi
yang utuh antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Para pembaca pun dapat
mengaplikasikan hal yang telah mereka teladani dari tokoh tersbut kepada Negara
ini.
Karya tulis ini menjabarkan usaha
minimal yang harus dilakukan pembaca untuk dapat meneladani sifat &
perjuangan tokoh pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sesuai
dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, kami selaku pembuat
karya tulis ini mencari sumber dan informasi yang tersedia dan tebentang luas
di internet.
Sebagai karya pertama, karya ini
sangat terbuka terhadap masukan dan akan terus diperbaiki dan disempurnakan.
Untuk itu, kami mengundang para pembaca untuk memberikan kritik, saran dn
masukkan guna perbaikan dan penyempurnaan karya berikutya. Atas kontribusi
tersebut, kami ucapkan terimakasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan
tauladan terbaik bagi generasi mendatang.
Bogor, 19
Februari 2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang pernah merasakan
pahitnya melawan para penjajah yang terjadi sebelum proklamasi dibacakan.
Semenjak Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu
pada tanggal 14 Agustus 1945 maka secara hukum tidak lagi berkuasa di
Indonesia. Hal ini mengakibatkan Indonesia berada dalam keadaan vacum of power
(tidak ada pemerintah yang berkuasa) dan waktu itu dimanfaatkan sebaik-baiknya
oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Saat proklamasi kemerdekaan, radio adalah alat
komunikasi yang sangat penting pada saat itu. Penyiarnya adalah Sutomo atau
yang biasa dikenal dengan sapaan Bung Tomo. Melalui Radio Republik Indonesia,
Bung Tomo mengumandangkan pidato-pidato tentang perjuangan melalui siaran
radio. Ia selalu memberi semangat kepada masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Saat kedatangan Inggris ke Indonesia pasca kemerdekaan Indonesia membuat rakyat
Indonesia menjadi ketakutan. Pasukan sekutu yang didominasi serdadu Inggris
tiba di Surabaya di bawah pimpinan Brigjen AWS Mallaby. Sebelum tiba, Bung Tomo
sempat melakukan orasi di radio. Kemudian Brigjen AWS Mallaby tewas ditembak
pejuang dan membuat Inggris marah sehingga mengeluarkan ultimatum kepada
Surabaya. Penduduk Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo menentang dengan tegas
akan hal tersebut. Bung Tomo mengangkat moral penduduk Surabaya lewat radio,
meneriakkan dengan lantang slogan-slogan "Merdeka atau Mati".
1.2. Rumusan Masalah
Dari data latar belakang tersebut, penulis mengangkat Bung Tomo sebagai bahan
peninjauan dan telab terpilih rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana awal kehidupan Bung Tomo?
2.
Bagaimana perjuangan Bung Tomo dalam mempertahankan kemerdekaan?
3.
Bagaimana penerapan nilai-nilai perjuangan Bung Tomo untuk para generasi mida?
1.3. Tujuan
Tujuan dibuatnya karya tulis ini adalah:
1.
Untuk memenuhi tugas Ujian Praktek pelajaran Sejarah Indonesia.
2.
Mengetahui bagaimana perjuangan Bung Tomo.
3.
Mengetahui nilai-nilai perjuangan dari Bung Tomo.
1.4. Manfaat
Dari
penelitian ini, penulis berharap pembaca dapat mengetahui bagaimana perjuangan
seorang Pahlawan dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Dan diharapkan
juga agar nilai-nilai yang terkandung dalam karya tulis ini melalui perjuangan
Bung Tomo dapat diterapkan oleh generasi muda.
1.5. Metode Penulisan
Metode
Penulisan karya tulis ini adalah dengan cara mengumpulkan informasi dari
berbagai sumber dari internet.Data-data akurat yang telah didapat darj berbagai
sumber dapat menjadi acuan penulisan karya ini.
BAB II
PEMBAHASAN
SUTOMO
Nama
Lengkap : Sutomo
Tempat
Lahir : Surabaya, Jawa Timur
Tanggal
Lahir : 03 Oktober 1920
Agama
: Islam
Kebangsaan
: Indonesia
Dikenal
: Sebagai Pahlawan Indonesia
Sutomo lebih
dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam
membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui
tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai
Hari Pahlawan.
Bung Tomo Muda
Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di
pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala
keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan,
sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor
pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia
mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran
Diponegoro yang dikebumikan di Malang.
Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda,
dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula
menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi
distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat
menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia
suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia
terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai
pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat
itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun
tidak pernah resmi lulus.
Sutomo kemudian bergabung dengan KBI
(Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat
kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok
ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.
Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di
Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang
pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.
Bung Tomo memiliki minat pada dunia
jurnalisme. Ia pernah bekerja sebagai wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem
di Surabaya pada tahun 1937. Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan
Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa,
Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939.
Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo
bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, bagian Bahasa
Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1942-1945.
Kisah Bung Tomo & Radio Pemberontakan, Pengobar Semangat Pejuang
Pada era kemerdekaan Indonesia, radio
memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan proklamasi yang baru
saja dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Pada era itu, radio menjadi
satu-satunya sumber informasi atas setiap kejadian di dunia maupun Indonesia.
Adalah Sutomo, pria kelahiran Surabaya 3
Oktober 1920, yang mewacanakan kelahiran radio pertama untuk mengumandangkan
pekik kemerdekaan. Sesaat setelah Indonesia merdeka, dia mendirikan dengan
Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabang yang tersebar di
seluruh Tanah Air.
Sebagai ketua BPRI, pria yang akrab dan
dikenal dengan panggilan Bung Tomo ini selalu mengumandangkan pidato-pidato
tentang perjuangan melalui siaran radio, yang ia beri nama Radio Repoeblik
Indonesia (RRI). Melalui RRI, mereka merelai siarannya dari Sabang hingga
Merauke.
Namun, sebelum mendirikan RRI, Bung Tomo
sempat tidak mendapatkan persetujuan dari Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin.
Saat mendatangi Jakarta, Amir tak memberikan izin atas usulnya mendirikan
stasiun radio khusus.
Kekecewaan yang dia rasakan semakin berat. Di
Jakarta, pasukan sekutu datang bersamaan dengan serdadu Belanda pada 30
September 1945. Di saat bersamaan, ia juga masih berstatus sebagai wartawan
Antara. Tak hanya itu, ia menjadi kepala bagian penerangan Pemoeda Repoeblik
Indonesia (PRI).
Sebelum kembali ke Surabaya, Bung Tomo
mendengar peristiwa perobekan bendera Belanda berwarna merah, putih dan biru di
Hotel Yamato. Usai dirobek, para pemuda dengan dukungan dari rakyat kembali menaikkan
bendera merah putih setelah membuang warna biru.
Demi memelihara semangat perlawanan, Bung
Tomo tetap nekat mendirikan sebuah Radio sekembalinya dari Jakarta. Radia yang
ia beri nama 'Radio Pemberontakan' ini mulai mengudara pada 16 Oktober 1945. Awal
menyiarkan pesan-pesan perjuangan, stasiun pemancar masih meminjam milik RRI
Surabaya.
Sejak didirikan, Bung Tomo menjadi
satu-satunya penyiar. Dengan suara penuh semangat dan menggelora, ditambah
intonasi memikat membuat radio ini semakin banyak didengar. Sebelum membaca dan
selesai berpidato, ia tak pernah lupa mengucapkan "Allahu Akbar."
Namun, cara ini ternyata tak disukai Jakarta.
Suami Sulistina ini dianggap terlalu 'menghasut' rakyat untuk berperang dan
melupakan jalan diplomasi. Namun, pemerintah hanya bisa diam dan membiarkannya
terus mengudara.
Tepat pada 25 Oktober 1945, pasukan sekutu
yang didominasi serdadu Inggris tiba di Surabaya di bawah pimpinan Brigjen AWS
Mallaby. Sebelum tiba, Bung Tomo sempat melakukan orasi di radio. Berikut
petikannya:
"Kita ekstremis dan rakyat sekarang
tidak percaya lagi pada ucapan-ucapan manis. Kita tidak percaya setiap gerakan
(yang mereka lakukan) selama kemerdekaan Republik tetap tidak diakui! Kita akan
menembak, kita akan mengalirkan darah siapa pun yang merintangi jalan kita!
Kalau kita tidak diberi Kemerdekaan sepenuhnya, kita akan menghancurkan
gedung-gedung dan pabrik-pabrik imperialis dengan granat tangan dan dinamit
yang kita miliki."
"Ribuan rakyat yang kelaparan,
telanjang, dan dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum
ekstremis, kita yang memberontak dengan penuh semangat revolusi, bersama dengan
rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat
Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali
lagi! Tuhan akan melindungi kita! Merdeka! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu
Akbar!"
Pertempuran pun pecah di Surabaya pada 27
Oktober setelah Inggris membebaskan intel Belanda yang ditangkap pejuang.
Mereka lantas mengambilalih sejumlah instalasi seperti kantor jawatan kereta
api, kantor telepon dan telegraf, serta rumah sakit.
Kontak senjata sempat mereda setelah Bung
Karno, Bung Hatta, dan Amir Sjarifuddin datang ke Surabaya setelah Inggris
merasa terdesak. Namun, tewasnya Mallaby membuat Inggris marah dan
mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerah.
Bung Tomo tak mau mematuhi permintaan itu,
sehari sebelum gempuran Inggris dimulai, Bung Tomo sempat berpidato untuk
menggelorakan rakyat. "Saudara-saudara rakyat Surabaya. Bersiaplah!
Keadaan genting. Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu."
"Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah
orang yang benar-benar ingin merdeka. Dan untuk kita, Saudara-saudara, lebih
baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap. Merdeka
atau mati! Dan kita yakin, Saudara-saudara, akhirnya pastilah kemenangan akan
jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah,
Saudara-saudara!
"Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!"
Kali ini, pidatonya mendapat tanggapan dari
RRI Surabaya. Stasiun radio milik pemerintah ini pun merelai ucapannya hingga
ke seluruh Indonesia. Meski akhirnya para pejuang berhasil dikalahkan dan
Surabaya jatuh ke tangan sekutu, namun semangat yang dikobarkan Bung Tomo tetap
melekat hingga kini.
Pidato Bung Tomo
Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh
Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah
menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka
tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya
tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada
mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang
pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada
mereka
Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau
kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh
pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka
masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk
di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak
bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga
mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada
mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan
pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk
memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat
diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya
ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada
di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda
Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau
sekalian.
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa
bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang
kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata
yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali
lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi
inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih
mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah
dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau
menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah
keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu
kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak
merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh
ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang
benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!
Perjuangan Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17
Agustus 1945 menyulut pro dan kontra tentang pengakuan kedaulatan Indonesia.
Sekutu tidak mengakui Indonesia sebagai Negara merdeka, karena kedaulatan
Indonesia sebelum pendudukan Jepang berada di tangan Belanda. Kekalahan Jepang
atas Sekutu pada 15 Agustus 1945 secara tidak langsung menyerahkan kedaulatan
Indonesia kepada negara-negara pemenang perang, salah satunya Belanda yang
menjadi bagian dari Sekutu (Abdul Wahid.2014:14). Pada 29 September 1945 Sekutu
di bawah komando AFNEI,(Allied Forces for Netherland East Indies) mendaratkan
kapalnya di Tanjung Priok. Tujuan kedatangan AFNEI adalah untuk melucuti
tentara dan senjata Jepang. AFNEI tidak datang ke Indonesia sendirian. Di dalam
AFNEI terdapat NICA (Netherland Indische Civil Administration) keberadaan NICA
ini menumbuhkan kecurigaan bangsa Indonesia akan keinginan kembali Belanda
menguasai Indonesia. Sejak kedatangan pasukan Sekutu secara berangsur-angsur
tentara Jepang kembali ke negaranya sehingga tinggallah bangsa Indonesia
berhadapan dengan NICA. Akibat kedatangan pasukan sekutu dan NICA seringkali
menimbulkan keributan secara fisik yang mengganggu stabilitas keamanan dan
politik Indonesia. Terjadi beberapa kali pertempuran antara pejuang Indonesia
dan pasukan sekutu seperti peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Palagan
Ambarawa 12-15 Desember 1945 di Ambarawa, Bandung lautan api 24 Maret 1946,
pertempuran secara fisik berlanjut dengan perjuangan secara diplomasi yaitu
perundingan Linggajati 25 Maret 1947. Perundingan ini melemahkan posisi
Indonesia karena belanda secara de facto hanya mengakui Sumatra, Jawa, dan
Madura (Abdul Wahid.2014:26). Posisi Indonesia yang semakin lemah karena
konsentrasi pemimpin Indonesia lebih terfokus pada perjuangan diplomasi, Hal
ini membuka peluang Belanda untuk melakukan penguasan terhadap kota-kota di
Indonesia secara militer, maka terjadilah peristiwa Agresi militer Belanda I
dan Agresi militer Belanda II. Agresi militer Belanda ini di tanggapi oleh
bangsa Indonesia dengan perang gerilya dengan membentuk kantong-kantong gerilya
di kota-kota di Indonesia. Pada 25 Oktober 1945, Kerajaan Inggris mendatangkan
6.000 personel,yang dipimpin oleh Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby diperintahkan
untuk mengambil alih Surabaya dari Jepang dan segera menemukan bahwa dirinya
sendiri beserta pasukannya telah terjebak dalam konflik dengan pasukan Republik
Indonesia. Tujuan yang utama dari pasukan Kerajaan Inggris di Surabaya adalah
perampasan senjata dari Pasukan Jepang, menjaga tawanan perang terdahulu, dan
mengirimkan sisa pasukan Jepang kembali ke Jepang. Sebagian dari pasukan Jepang
menyerahkan senjata mereka, namun lebih dari 20.000 pasukan Indonesia menolak
untuk menyerahkan senjatanya (Asiah, Nur.2009:20). Pada 26 Oktober 1945,
Brigadir Jendral A.W.S Mallaby mencapai suatu persetujuan dengan Mr Suryo,
Gubernur Jawa Timur yang berisikan bahwa pihak Kerajaan Inggris tidak akan
meminta pasukan Indonesia untuk menyerahkan senjatanya. Terjadi suatu selisih
paham yang nyata antara pasukan Kerajaan Inggris di Jakarta yang dipimpin oleh
Letnan Jenderal Philip Christison dengan pasukan Kerajaan Inggris di Surabaya
tentang persetujuan ini, suatu selisih paham yang serius. Pada 30 Oktober 1945,
sesaat setelah menghadiri acara di publik kota Surabaya, mobil yang dikendarai
Brigadir Jendral A.W.S Mallaby ditembak oleh pejuang sehingga menyebabkan
Brigadir Jendral A.W.S Mallaby tewas. Peristiwa tersebut memancing kemarahan
dari Letnan Jenderal Philip Christison yang dengan serta merta mengirim 24.000
pasukan tambahan dari Divisi yang dipimpin oleh Mayor Jenderal E. C. Mansergh,
dilengkapi dengan 21 buah Tank M4 Sherman, 2 kapal penjelajah dan 3 kapal
perusak untuk menaklukkan Surabaya. Pada 9 November 1945, dikeluarkan suatu
ultimatum oleh pasukan kerajaan Inggris kepada Pasukan Indonesia agar
menyerahkan semua senjata mereka, atau Surabaya akan diserang dari daratan,
laut, dan udara.Rakyat Indonesia menilai ini sebagai penghinaan terhadap
martabat bangsa mereka, dan menolak ultimatum tersebut. Maka pada 10 November 1945,
sesuai dengan janjinya pasukan Kerajaan Inggris menggempur Surabaya dari Tri
Matra. Penduduk Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo menentang dengan ganas
walaupun harus berjuang dengan ketiadaan persenjataan. Bung Tomo mengangkat
moral penduduk Surabaya lewat radio, meneriakkan dengan lantang slogan-slogan
"Merdeka atau Mati". Pertempuran yang sengit di dalam kota Surabaya
terus terjadi selama 10 hari. Pada 20 November 1945, pasukan Kerajaan Inggris
merencanakan untuk menaklukkan Surabaya dengan lebih dari 2.000 peristiwa
penyerangan. Lebih dari 20.000 pasukan Indonesia telah terbunuh. Namun para
pejuang juga melakukan balasan dengan membumihanguskan kota Surabaya.
Bung Tomo ditawan pejuang
Ceritanya saat itu Bung Tomo sangat populer
karena pidato-pidatonya. Hal ini dinilai bisa membahayakan keselamatan Bung
Karno. Maklum, banyak kaki tangan Belanda dan Inggris yang berkeliaran.
Suatu hari datanglah satu pasukan bersenjata
ke rumah Bung Tomo. Mereka menjemput dan menahan Bung Tomo. Hal itu membuat
ibunda Bung Tomo sangat khawatir. Pada masa itu, dengan tuduhan mata-mata saja,
seseoang bisa langsung ditembak mati.
Bung Tomo pun merasa heran. Apa salahnya
sampai ditawan para pejuang. Dia ditahan dengan dikawal seorang pemuda dengan
pisau bayonet terhunus. Jika ditanya, para pemuda itu mengaku hanya menjalankan
perintah.
“Akhirnya aku hanya memasrahkan diri kepada
Tuhan,” ujar Bung Tomo.
Baru akhirnya saat pemimpin pemuda itu
menghubungi Markas Besar Tentara semuanya menjadi jelas. Pemimpin Markas Besar
Tentara Jawa Timur Dr Mustopo memerintahkan Pemuda Republik Indonesia (RPI)
untuk melindungi Bung Tomo.
Karena Bung Tomo bukan tentara atau polisi, maka
tak bisa dikawal oleh aparat sehingga RPI yang ditugaskan. Nah, RPI ini salah
menerjemahkan perintah. Mereka mengira ‘melindungi’ untuk Bung Tomo sama
artinya dengan perintah untuk ‘melindungi’ antek-antek Belanda.
Pada masa itu, kata ‘melindungi’ biasa
digunakan untuk kode menangkap dan menahan antek-antek Belanda. Kira-kira sama
artinya dengan kata-kata aparat ‘mengamankan’ pada saat ini yang artinya
menangkap.
Padahal perintah buat mereka melindungi Bung
Tomo jelas untuk menjaga keselamatan Bung Tomo yang menjadi penyiar radio
pejuang.
Setelah sadar akan kesalahan ini mereka pun
tertawa dan segera melepaskan Bung Tomo. Keluarga Bung Tomo pun lega bukan main
saat mendengar suara anak mereka kembali mengudara sore harinya.
Tentara Sekutu pintar-pintar
24 Oktober 1945, dari pelabuhan sudah
terlihat jelas armada Inggris akan memasuki Surabaya. Bersama mereka Belanda
ikut membonceng.
Rakyat Surabaya tak sudi lagi dijajah. Kepala
Markas Besar Tentara Jawa Timur Dr Mustopo segera berbicara lewat corong Radio
Surabaya. Apa yang diucapkan Mustopo adalah jeritan hatinya. Tapi kok malah
memuji Inggris?
“Jeritan yang diucapkan DR Mustopo dengan
sepenuh jiwa dan hati tersebut kadang terdengar menggelikan sekali. Apalagi
yang mengucapkannya seorang Kepala Markas Besar Tentara,” kata Bung Tomo.
Berikut bunyi pidato DR Mustopo:
“NICA, NICA, NICA jangan mendarat. Inggris,
kamu jangan mendarat. Kamu tahu aturan Inggris, kamu pintar, sudah sekolah
tinggi. Kamu tahu aturan, jangan mendarat. NICA, NICA, NICA!”
Namun Bung Tomo mengakui pidato DR Mustopo
itu adalah cermin suara rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia yang saat itu tak
berpendidikan saja tahu kedatangan Inggris akan mendatangkan banyak masalah.
Bayonet Jepang ditukar pisau dapur
Bung Tomo adalah salah satu pemuda yang aktif
melobi Jepang untuk menyerahkan senjata pada para pejung Indonesia. Hal ini tak
mudah, karena banyak tentara Jepang yang menolak menyerahkan senjata. Mereka
beranggapan tugas mereka tetap menjaga ketertiban di Indonesia sampai sekutu
datang.
Awalnya bermodal kartu pers wartawan Domei,
Bung Tomo membohongi prajurit Jepang. Dia mengatakan pembesar tentara Dai
Nippon sudah setuju mengalihkan kekuasaan pada Bung Karno. Di tempat lain pun
sudah banyak tentara Jepang yang menyerahkan senjatanya pada pemuda Indonesia
untuk menghadapi Belanda.
“Demikianlah isapan jempol yang kuceritakan
dengan semangat,” kata Bung Tomo.
Akhirnya tentara Jepang itu mau menyerahkan
senjatanya.
Di kesempatan lain, saat penyerahan senjata,
seorang prajurit Jepang mengadu pada Bung Tomo. Dia mengaku pemuda Indonesia
mau merampas bayonetnya. Padahal bayonet itu sangat penting baginya karena dia
seorang tukang masak.
Bung Tomo pun tak kehabisan akal. Dia
menyuruh pemuda Indonesia itu untuk mencari pisau dapur guna ditukar dengan bayonet
sang tentara Jepang.
Granat dilempar tak meledak
Kisah ini jadi bukti keberanian rakyat
Surabaya. Tanpa pengetahuan dan pengalaman militer, mereka berani menghadapi
tentara Inggris.
Saat itu rakyat Surabaya mengepung penjara
Koblen yang dijadikan pertahanan tentara Inggris dan Gurkha. Mereka melempari
musuh dengan granat hasil rampasan tentara Jepang. Namun granat yang
dilemparkan para pejuang itu tak meledak.
Beberapa saat kemudian, tentara Gurkha
‘mengembalikan’ granat-granat tersebut ke arah para pejuang dan meledak semua.
Banyak pejuang terheran-heran.
Rupanya saat para pejuang itu melemparkan
granat, mereka tidak tahu harus mencabut picunya terlebih dahulu. Pantas saja
tak ada yang meledak.
“Mereka menyangka granat itu akan meledak
dengan sendirinya jika terbentur tembok atau tanah,” kata Bung Tomo.
Pasca Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat
terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia
dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan
Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo
kembali muncul sebagai tokoh nasional.
Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting
pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas
Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956
di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat
sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.
Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda
pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap
program-program Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah
Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun
kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam
penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.
Ia masih tetap berminat terhadap
masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di
dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan
anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam
pendidikannya.
Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam
kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh,
ataupun calon pembaharu dalam agama.
Bung Tomo Pernah Dipenjara Pemerintah Orde Baru
Pada awalnya, Bung Tomo mendukung
pemerintahan Soeharto karena tidak berhalauan komunis. Namun di tahun
70-an,Bung Tomo mulai mengkritik pemerintah orde baru. Memang sudah menjadi
sifat Bung Tomo dalam mengkritik siapapun tanpa tedheng aling-aling alias
ceplas-ceplos tanpa sungkan, tanpa ewuh-pakewuh dengan beraninya mengkritik
Bung Karno, Seoharto, dan orang besar kala itu. Seperti disebut dalam buku
“Menembus kabut gelap: Bung Tomo menggugat : pemikiran, surat, dan artikel” …
Oleh Sutomo (Bung Tomo), menjelang hari Pahlawan 1972, Majalah Panji Masyarakat
No 855 Tahun XIII memuat wawancara dengan Bung Tomo dengan Judul Bung Tomo Menggugat:
Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan Semangat 10 November 1945 telah
dikhianati”. Artikel ini berisi kritikan Bung Tomo kepada Presiden Soeharto,
Gubernur Ali Sadikin, dan Bulog yang seolah-olah menganakemaskan etnis
Tionghoa. Bung Tomo juga kerap mengkritik adanya korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan di Orde Baru. Empat tahun setelah putra keduanya, Bambang Sulistomo,
ditahan dua tahun karena diduga terlibat unjuk rasa pada peristiwa 15 Januar
1974 (yang dikenal dengan Malari) , giliran Bung Tomo yang ditahan akibat
diduga terlibat unjuk rasa mahasiswa yang menentang kebijakan Orde Baru.
Bersamanya ditahan juga Mahbub Junaedi dan Ismail Suny. Menurut Bambang, “Sejak
keluar dari penjara bapak tak lagi meledak-ledak meskipun hati, sikap, dan
kata-katanya tetap satu, konsisten,”.
Bung Tomo Wafat
Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di
Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi
untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci,
jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah
Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Mempertahankan
kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban seluruh bangsa Indonesia, untuk itu
diharapkan seluruh bangsa ikut andil dalam usaha mempertahankan kemerdekaan
kita sebagai bangsa Indonesia harus menghargai segala bentuk perjuangan para
pahlawan dengan mempertahankannya dan mempelajari segala bentuk perjuangan
sehingga kita dapat mencontohnya.
Usaha
mempertahankan kemerdekaan Indonesia dapat kita laksanakan dengan cara belajar
dengan giat, selalu mentaati peraturan sekolah maupuh hokum Negara, selalu
bersikap positif, menjaga nama baik ( diri sendiri, keluarga, orang lain ),
menjalin hubungan baik dengan Negara manapun, mencintai produk dalam negeri,
dan juga harus membangun Indonesia di masa yang mendatang.
Saran
Semoga kecintaan anak bangsa terhadap
Indonesia atau kelompok sosial lainnya bukanlah "cinta buta",
sehingga bangsa ini meski perlahan namun pasti bisa beranjak bangkit dan
menegakkan kepala di tengah dunia internasional.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-bung-tomo-radio-pemberontakan-pengobar-semangat-pejuang.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Sutomo
https://id.wikipedia.org/wiki/Sutomo
Sekian makalah yang dibuat oleh kelompok saya, kurang lebihnya mohon maaf ya, Terima Kasih :)

Comments
Post a Comment